Si Pitung, Superhero Betawi Asli

Penulis : Soekanto SA
Penerbit : DAR! Mizan
Terbit : Februari 2009
Tebal : 154 halaman
Harga : Rp. 24.000
Siapa yang tidak kenal Si Pitung? Pasti hampir semua orang Indonesia tahu, saya saja yang bukan berasal dari daerahnya si Pitung bisa tahu. Jika ada yang tidak mengenal si Pitung kemungkinan besar adalah para remaja atau anak-anak zaman sekarang yang tidak diperkenalkan sang legenda Betawi yang terkenal jago bela diri ini. Awal saya mengenal si Pitung ini dari cerita di film-film yang terbit di televisi Indonesia. Saya pribadi tidak terlalu ingat jelas tentang detail cerita, hanya sekedar mengingat ciri khas Si Pitung yaitu memakai peci, baju plus celana longgar, sabuk gede, dan tidak ketinggalan golok.
![]() |
| Pakaian si Pitung di dunia nyata. | Sumber: www.gedoor.com |
Sayangnya,
sepanjang ingatan saya, belum pernah dijumpai, baik film ataupun buku,
yang menceritakan masa kecil dari si Pitung. Hingga kemudian, saya
mendapatkan buku anak terbitan DAR! Mizan yang berjudul “Si Pitung,
Superhero Betawi Asli”. Rasa yang pertama kali terbangun ketika
menemukan buku ini adalah nostalgia.
Walaupun
kisah pendekar asal Betawi ini sendiri masih belum jelas apakah
berdasar kenyataan atau hanya sekadar mitos, namun Pitung seperti telah
melekat pada masyarakat Betawi sebagai pembela rakyat kecil. Bisa
dibilang Pitung adalah Robin Hood-nya Betawi. Seperti halnya Robin Hood,
di sini Pitung juga sering mencuri harta pada orang-orang kaya yang
kerap mengumpulkan kekayaannya dengan menindas rakyat, kemudian hasil
curian akan dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Ditambah lagi dengan
sosoknya yang sangat berani melawan penjajah Belanda dan membela rakyat
kecil, membuatnya menjadi idola anak-anak.
Bapak
Soekanto mencoba mengisahkan keberanian, ketaqwaan dan jiwa kemanusiaan
si Pitung mulai dari ketika dia masih kecil, kurang lebih 10 tahun-an.
Kullu nafsin dzaa'iqatul maut
Semua yang bernafas akan kembali kepada Tuhannya
Ayat
inilah yang berulang kali ditegaskan penulis dalam diri sosok Pitung.
Bagaimana pun hebatnya, atau saktinya seseorang tidak akan pernah lepas
dengan yang namanya kematian. Karena mati hanya sekali, maka hidup harus
lah selalu memberikan manfaat bagi sekitarnya. Makna ayat tersebutlah
yang kemudian digunakan sang penulis untuk membangun karakter Pitung
hingga menjadi pria pemberani sekaligus berakhlak.
Saya
suka sekali dengan cara penulis menyelipkan pesan-pesan yang pastinya
akan sangat mudah diserap oleh kepala anak-anak. Seperti pesan Haji
Naipin (guru Pitung) ketika Pitung buru-buru beranjak setelah shalat
jama’ah, “Tot, jangan mau lari saja kalau selesai shalat ya! …. Coba kau
pikir, kita shalat berarti kita sedang menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
Kaupikir, pantaskah begitu shalat selesai, kita lari membelakangi-Nya?”
[h.28] Sungguh, sebuah pesan yang tidak hanya mengena bagi anak-anak
tetapi juga orang dewasa.
Alur
cerita berjalan maju, hingga Pitung dewasa. Hanya saja agak terjadi
kebingungan dengan bertambahnya usia Pitung. Karena tidak ada penjelasan
atau siratan dalam cerita tentang pertambahan usia tokoh, saya kerap
baru menyadari ketika cerita sudah berjalan lumayan jauh atau saat
melihat ilustrasi buku, “Ooohh… si Pitungnya udah gede to.”
Dari
cara Pak Soekanto bercerita, dari pesan-pesan yang disampaikan, dari
penyampaian yang tidak menggurui, membuat buku ini layak untuk dijadikan
bacaan anak-anak. Sejujurnya saya tidak terlalu mengenal
sosok Bapak Soekanto SA, sosok yang baru saya ketahui sangat lekat
dengan nama majalah si Kuncung. Era saya kecil, Kuncung bukanlah majalah
yang memenuhi bacaan saya, karena pada saat itu Mentari dan Bobo-lah
yang seringkali menemani keseharian. Saat tuntas membaca buku si Pitung
ini, mata saya tertuju pada foto profil penulis. Terlihat sosok pria
sepuh yang sangat sederhana. Subhanallah, dengan usia yang telah
memasuki 76 tahun, ternyata produktivitas beliau tidak ikut rapuh.
Dari membaca novel si Pitung ini, saya tahu bahwa penulisnya memang
sangat mengenal dan mendalami dunia anak. Terlihat dari cara beliau
menggambarkan si Pitung kecil dengan sifat khas anak laki-laki yang
sering merasa dirinya pemberani dan ingin sekali menjadi jagoan. Setiap
kali gurunya akan mengajarkan sesuatu, Pitung dengan sombong akan
berujar, “Saya pasti bisa.” Gambaran-gambaran kuat karakter tokoh lah
yang membuat cerita menjadi lebih bersemangat.
Bapak sembilan anak ini, mulai aktif menulis dan mengamati perkembangan
bacaan anak sejak tahun 1950-an. Bersama Sudjati SA, beliau bekerja sama
membangun majalah si Kuncung sebagai penulis sekaligus editor.
Dedikasinya pada dunia anak, membuatnya dianugerahi berbagai penghargaan
baik di dalam maupun di luar negeri.

Pitung Robin Hood ala Betawi
Menurut Damardini (1993:148) dalam Van Till (1996):
Pitung memang perampok. Mungkin saja Haji Samsudin dipukuli ketika itu.
Kalau menurut istilah sekarang, Pitung itu pengacau, dan dicari oleh
Pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras
orang-orang kaya. Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat
miskin. Namun sebenarnya tidak. Tidak ada perampok yang rela membagi
hasil rampokannya dengan cuma-cuma, bukan? Menurut kabar, Pitung
menyumbangkan uangnya pada mesjid-mesjid. Saat itu mesjid hanya ada di
Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah. Tidak ada bukti bahwa Pitung
mendermakan uangnya di sana.'
Pitung menjadi karakter sebagai Robin Hood versi Betawi dikembangkan
oleh Lukman Karmani (Till, 1996).Karmani menulis novel Si Pitung, novel
ini dikisahkan bahwa Si Pitung sebagai pahlawan sosial. Menurut Rahmat
Ali (1993).
'Pitung sebagai tokoh kisah Betawi masa lampau memang dikenal sebagai
perampok, tetapi hasil rampokan itu digunakan untuk menolong orang-orang
yang menderita. Dia adalah Robin Hood Indonesia. Walaupun demikian
pihak yang berwenang tidak memberikan toleransi, orang yang bersalah
harus tetap diberi hukuman yang setimpal' (Rahmat Ali 1993:7)
Beragam pro dan kontra banyak menyelubungi di balik kisah legenda Si
Pitung ini, tetapi pada dasarnya bahwa tokoh Si Pitung adalah cerminan
pemberontakan sosial yang dilakukan oleh "Orang Betawi" terhadap
penguasa pada saat itu yaitu Belanda. Apakah hal ini dipertanyakan valid
atau tidaknya, kisah Si Pitung begitu harum didengar dari generasi ke
generasi oleh masyarakat Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari
belenggu penjajah. Hal ini ditunjukkan dari Rancak Pitung di atas
bagaimana Si Pitung begitu ditakuti oleh pemerintah Belanda pada saat
itu.
Kisah Nyata Si Pitung
Berdasarkan penelusuran van Till (1996) berdasarkan Hindia Olanda
22-11-1892 (Koran Terbitan Malaya (Malaysia pada saat ini)). Pada tahun
1892 Si Pitung dikenal pada sebagai “One Bitoeng”, “Pitang", kemudian
menjadi “Si Pitoeng” (Hindia Olanda 28-6-1892:3; 26-8-1892:2). Laporan
pertama dari surat kabar ini menunjukkan bahwa schout Tanah Abang
mencari rumah “One Bitoeng” di Sukabumi. Dari hasil penemuannya
ditemukan Jas Hitam, Seragam Polisi dan Topi, serta beberapa
perlengkapan lainnya yang digunakan untuk mencuri kampung (Hindia
Olanda, 28-6-1892:2). Sebulan kemudian polisi menggeledah rumahnya
kembali dan ditemukan uang sebesar 125 gulden. Hal ini diduga uang
curian dari Nyonya De C dan Haji Saipudin seorang Bugis dari Marunda
(Hindia Olanda 10-8-1892:2;2; 26-8-1892:2). Kemudian Si Pitung
menggunakan senjata untuk mencuri pada tanggal 30 Juli 1892, ketika itu
Si Pitung dan lima kawanannya (Abdoelrachman, Moedjeran, Merais, Dji-ih,
dan Gering) menerobos rumah Haji Saipudin dengan mengancam bahwa Haji
Saipudin akan ditembak.
Pada tahun 1892 Pitung dan kawanannya ditangkap oleh polisi sesudah
adanya nasihat dari Kepala Kampung Kebayoran yang menerima 50 ringgit
(Hindia Olanda 26-8-1892:2) untuk menangkap Si Pitung. Setelah
ditangkap, kurang dari setahun kemudian pada musim semi 1893, Pitung dan
Dji-ih merencanakan kabur dengan cara yang misterius dari tahanan
Meester Cornelis. Sebuah investigasi kemudian dilakukan oleh Asisten
Residen sendiri, tetapi tidak berhasil.
Karena kejadian tersebut Kepala Penjara dicurigai melepaskan si Pitung
dan Dji-ih. Akhirnya seseorang Petugas Penjara mengakui bahwa dia
meminjamkan sebuah "belincong (sejenis linggis pencungkil)” kepada Si
Pitung, yang kemudian digunakan untuk membongkar atap dan mendaki
dinding (Hindia Olanda, 25-4-1893:3; Lokomotief 25-4 1893:2).
Akibatnya, Si Pitung lepas lagi. Berdasarkan rumor, Pitung pernah
menampakkan diri ke seorang wanita di sebuah perahu dengan nama Prasman.
Detektif mencoba mencari di kapal tersebut (Hindia Olanda,
12-5-1893:3), tetapi hasilnya Pitung tidak dapat ditemukan. Semakin
sulitnya menemukan Si Pitung, menyebabkan harga untuk penangkapan Si
Pitung menjadi meningkat sebesar 400 Gulden. Pemerintah Belanda pada
saat itu ingin "menembak mati" di tempat , tetapi sebagian pejabat
mengatakan jika Pitung ditembak justru akan menumbuhkan semangat
patriotik, sehingga niat ini diurungkan oleh kepolisian Batavia untuk
menembak ditempat walaupun pada akhirnya hal ini dilakukan juga.
Sebagai tindakan balas dendam, Pitung melakukan pencurian secara
kekerasan termasuk dengan menggunakan sejata api. Akhirnya Pitung dan
Dji-ih membunuh seorang polisi intel yang bernama Djeram Latip (Hindia
Olanda 23-9-1893:2). Dia juga mencuri wanita pribumi, Mie dan termasuk
pakaian laki-laki serta pistol revolver dengan pelurunya. Pernyataan ini
didukung oleh Nyonya De C seorang pedagang wanita di Kali Besar
menyatakan bahwa Pitung mencuri sarung yang bernilai ratusan Gulden dari
perahu-nya (Hindia Olanda 22-11-1892:2).
Dji-ih ditangkap kembali di kampung halamannya, ketika sedang menderita
sakit. Pada saat itu Dji-ih pulang ke kampung halamannya untuk
memperoleh pengobatan. Kemudian dia pindah ke rumah orang tua yang
dikenal. Kepala kampung pada saat itu (Djoeragan) melaporkannya ke
Demang kemudian memerintahkan tentara untuk menangkap Dji-ih dirumahnya.
Karena dia terlalu sakit, dia tidak berdaya untuk melawan, walaupun
pada saat itu pistol dalam jangkauannya (Hindia Olanda 19-8-1893:2). Dia
menyerah tanpa perlawanan. Untuk menutupi hal ini kemudian Pemerintah
Belanda melansir di Java-Bode (15-8-1893:2) bahwa Dji-ih kabur ke
Singapura. Informan yang bertanggungjawab melaporkan Dji-ih kemudian
ditembak mati oleh Pitung di suatu tempat yang tak jauh dari Batavia
beberapa minggu kemudian.
“'Itoe djoeragan koetika ketemoe Si Pitoeng betoelan di tempat sepi
troes, Si djoeragan menjikip pada Si Pitoeng dan dari tjipetnja Si
Pitoeng troes ambil pestolnja dari pinjang, lantas tembak si djoeragan
itoe menjadi mati itoe tempat djoega.' (Hindia Olanda 1-9-1893:2.)
Beberapa bulan kemudian, di Bulan Oktober, Kepala Polisi Hinne
mempelajari dari informan bahwa Pitung terlihat di Kampung Bambu,
kampung di antara Tanjung Priok dan Meester Cornelis. Kemudian dalam
perajalanannya Hinne diberikan laporan bahwa Pitung telah pindah ke arah
pekuburan di Tanah Abang (Hindia Olanda 18-10-1893), kemudian Hinne
menembaknya dalan penyergapan itu. Pitung ditembak di tangan, kemudian
Pitung membalasnya. Kemudian Hinne menembak kedua kalinya, tetapi,
meleset, dan peluru ketiga mengenai dada dan membuatnya terjerembap di
tanah. Sehari sesudah kematiannya yaitu hari Senin, jenazah dibawa ke
pemakaman Kampung Baru pada jam 5 sore.
Setelah Hinne menangkap Pitung setahun kemudian dia dipromosikan menjadi
Kepala Polisi Distrik Tanah Abang untuk mengawasi seluruh Metropolitan
Batavia-Weltevreden. Setelah kejadian tersebut Pemerintah Hindia Belanda
melakukan pencegahan agar "Pitung"-"Pitung" yang lain tidak terjadi
lagi di Batavia. Bahkan karena ketakutannya makam Si Pitung setelah
kematiannya, dijaga oleh Pemerintah Belanda agar tidak diziarahi oleh
masyarakat pada waktu itu.
Kesaktian dan Kematian Si Pitung
Berdasarkan cerita legenda, Si Pitung dapat dibunuh oleh Belanda dengan
beragam argumen tersebut di atas. Menurut Hindia Olanda (18-10-1893:2)
sebelum ditangkap Pitung dalam keadaan rambut terpotong, beberapa jam
sebelum kematiannya pada hari Sabtu. Seperti yang diceritrakan oleh
legenda bahwa kesaktian Si Pitung hilang akibat jimat-nya diambil orang
(Versi Film Si Pitung Banteng Betawi), tetapi yang menarik, versi lain
menyatakan, bahwa Si Pitung dapat di-"lemahkan" jika dipotong
rambut-nya. Berdasarkan koran Hidia Olanda dikatakan bahwa sebelum
kematiannya Si Pitung telah dipotong rambutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar